Standarisasi rasa selalu menjadi issue yang menarik dalam membahas industri kuliner. Bagaimana tidak, customer pasti sudah mempersiapkan panca indera-nya untuk menikmati setiap sajian yang pasti sudah tergambar tampilannya, aromanya, kelezatannya sebelum datang kembali ke sebuah restoran.

Ekspektasi inilah yang harus selalu dipenuhi oleh pengusaha kuliner, sebab melenceng saja dari ekspektasi maka kekecewaan yang timbul dari customer. Seperti diceritakan seorang teman yang dengan giatnya merekomendasikan salah satu menu di sebuah restoran di Bogor. Si teman merasa puas dengan kunjungan pertamanya di restoran tersebut, karena itu dibujuknyalah tim kerja kantornya untuk sekedar lunch di restoran tersebut.

Singkat cerita, dipesanlah menu yang sama dengan yang dipesan saat kunjungan pertama. Betapa kagetnya ketika yang datang semuanya tidak sama dengan apa yang diterima di kunjungan sebelumnya. Dari sisi presentasi, rasanya saat dicoba, semua melenceng dari ekspektasi. Alhasil, itu menjadi kunjungan kedua dan mungkin kunjungan terakhir teman saya di restoran itu.

Dari sisi rasa, clear bahwa standarisasi sangat diperlukan. Lalu bagaimana dengan kecepatan pelayanan? Saat ini banyak pengusaha yang memperpendek masa tunggu customer dari pemesanan hingga datangnya menu pertama dihidangkan. Ada yang melengkapi waiters dengan alat komunikasi wireless/nirkabel saat berinteraksi dengan customer, sehingga pada saat waiters mengulang pesanan dari customer, kru dapur sudah dapat merekam apa yang harus mereka siapkan untuk customer tersebut. Ada pula restoran yang melengkapi dengan POS System terintegrasi, dimana waiters menuliskan pesanan pada aplikasi di smartphone yang terhubung dengan POS System di kasir dan printer di kitchen. Begitu pesanan di confirm, maka otomatis nomor meja dan pesanan terekam dalam sistem yang printer di kitchen mencetak pesanan tersebut. Dan masih banyak lagi cara lainnya…

Namun demikian, seberapapun canggihnya sistem komunikasi restoran yang diterapkan, untuk masakan yang fresh tetap memerlukan cook yang handal untuk mempersiapkan masakannya. Jika tidak, kembali si cook ini harus dibantu dengan bumbu masak instan yang khusus digunakan untuk kebutuhan restoran, sehingga bisa mengakomodasi kebutuhan cita rasa, kecepatan dan juga keunikan. Tak heran jika Pak Darman dari Jambi, seorang motivator dan juga pengusaha kuliner menerapkan bumbu instan HORECA untuk kebutuhan usaha kuliner aneka Nasi Goreng yang dimilikinya. Begitu juga dengan Pak Budi di Jakarta, yang selain memiliki restoran Ayam Goreng sendiri juga menjadi supplier bagi beberapa Hotel dan Restoran yang menggunakan bumbu instan HORECA untuk menghasilkan masakan terstandar dan cepat.

Industri kuliner adalah industri service yang identik dengan banyaknya personel, namun demikian dimasa dimana UMP (Upah Minimum Provinsi) semakin tinggi, seyogyanya kita dapat memilih karyawan yang benar-benar kompeten dan memberikan efek positif untuk perusahaan, sehingga dengan upah relatif tinggi kita mendapatkan manfaat/benefit yang jauh lebih besar. Tentunya dibantu dengan sistem, cara kerja dan bahan yang juga memudahkan dan mengoptimalkan pekerjaan karyawan restoran.

Comments Off